Wasiat Fatimah R.ha Untuk Ali R.a.

Meninggalnya Rosululloh SAW membuat putri tersayangnya Siti Fathimah ra kehilangan gairah untuk lebih lama hidup di dunia. Beliau sangat merindukan untuk lebih cepat bertemu dan berkumpul kembali dengan ayah tercinta.
Beliau sudah tidak kelihatan lagi gembira, dan selalu kelihatan sedih bahkan sering menangis, sehingga badannya semakin kurus.

Kemudian setelah beliau merasakan bahwa ajalnya sudah dekat, maka beliau berwasiat kepada Sayyidina Ali R.a, seorang suami tercinta yang selalu menjaga serta menghiburnya.
Ada tiga pesan Siti Fathimah ra yang disampaikan kepada Sayyidina Ali R.a. 

Yang pertama agar sepeninggalnya nanti, Sayyidina Ali R.a dimintanya untuk menikah dengan Umamah binti Al Ash ra, kemanakan Siti Fathimah ra, putri dari Siti Zainab ra saudaranya.
Pilihan ini dikarenakan Umamah ra sudah sering membantunya dalam mengasuh putra putrinya. Sehingga bagi anak anaknya Umamah ra bukan orang yang asing, karena selalu berkumpul.
Mengenai Umamah ra ini, Imam Bukhori ra meriwayatkan, bahwa suatu ketika Rosululloh SAW sholat dengan menggendong cucunya yang masih kecil, yaitu Umamah putri dari Siti Zainab binti Rosulillah SAW. Apabila beliau sujud maka Umamah diletakkan dan saat berdiri beliau gendong lagi..
Itulah Umamah ra yang dipilih oleh Siti Fathimah ra untuk menjadi istri bagi suaminya.

Yang kedua, agar dibuatkan baginya Keranda, sebagaimana yang pernah dicontohkan oleh Asma’ binti Umais ra, dan diatasnya  ditutup dengan kain. Sehingga disaat diangkat tidak kelihatan bentuk tubuhnya.
Keranda tersebut dalam sejarah dikenal sebagai Keranda pertama dalam Islam.

Yang ketiga, agar beliau dimakamkan diwaktu malam, dipemakaman umum Baqi’.
Namun beberapa Ulama menolak beliau dimakamkan dimalam hari, sebab untuk apa beliau minta dibuatkan Keranda dan ditutup dengan kain. Hal ini membuktikan bahwa beliau tidak  dimakamkan dimalam hari.

Selanjutnya begitu Siti Fathimah ra wafat, semua yang diwasiatkan dipenuhi oleh Imam Ali R.a. Satu persatu wasiatnya beliau laksanakan.

Yang pertama dimintanya Asma’ binti Umais ra (Istri Kholifah Abubakar ra.) untuk membuat Keranda, sebagaimana yang dikehendaki oleh Siti Fathimah ra. Kemudian yang memandikan juga Asma’ sesuai dengan wasiat Siti Fathimah ra kepada Asma’. Selanjutnya beliau disholatkan dan dimakamkan di Baqi’. Sesuai dengan yang dikehendaki oleh Siti Fathimah ra.
Wafatnya Siti Fathimah ra ini benar benar merupakan pukulan yang sangat besar bagi Imam Ali R.a, sebab baru enam bulan beliau ditinggal oleh Rosululloh SAW, seorang panutan yang sejak kecilnya selalu mengasuh dan membimbingnya.

Beberapa hari kemudian, dalam rangka memenuhi Wasiat istrinya, maka Imam Ali R.a. menikah dengan Umamah ra, seorang wanita yang menjadi pilihan Siti Fathimah ra, yang bagi putra putri Imam Ali merupakan orang yang sudah lama mereka kenal.


Demikian Wasiat Siti Fathimah ra kepada Imam Ali R.a.

By. Kisah Sahabat. http://www.kisahsahabat.com/

Ketemu Wahabi Salafi Usil dan Keras Kepala? Ini Solusinya

Sudah bukan rahasia lagi, bahwa sebagian kalangan yang berpaham Wahabi & Salafi memiliki mulut usil karena sering mempermasalahkan kebiasaan masyarakat Islam di mana saja, menyangkut: Peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw., ziarah kubur, qunut shubuh, tahlilan, ratiban, menghadiahkan pahala kepada orang yang sudah meninggal, do'a berjama'ah, zikir keras berjama'ah, bersalaman sesudah shalat, tawassul, dan lain sebagainya. Hal itu mereka lakukan dalam rangka menyebarkan pengaruh dan paham di masyarakat yang mereka sering anggap "tersesat" atau "musyrik" dengan sebab melakukan kebiasaan-kebiasaan tersebut.

Dalam hal ini, mereka bersikap seperti seorang da'i yang ingin mengembalikan masyarakat yang tersesat kepada jalan agama yang benar (menurut mereka), walaupun anehnya, yang sering mereka dakwahi adalah orang-orang awam yang tidak mengerti. Padahal, mereka seharusnya memprioritaskan kalangan orang alim yang lebih patut "dikasihani" dan didakwahi karena sudah terjerumus sangat jauh dalam "keyakinan sesat". Ternyata, itu tidak berani mereka lakukan, tentunya karena mempengaruhi orang awam jauh lebih mudah daripada orang alim. Berarti dakwah mereka tidak bisa disebut "mengembalikan orang sesat kepada jalan yang benar", tetapi lebih tepat disebut "merekrut pengikut dengan memanfaatkan keawaman dan ketidakmengertian orang."

Ya, Serigala hanya menyerang kambing gembala yang terpisah dari rombongan! Ia tidak akan mendekati kambing-kambing yang sedang diawasi oleh penggembalanya, apalagi menyerang penggembala yang sedang memegang senapan. Karena itu, bila keusilan ini terjadi, maka lakukanlah langkah-langkah berikut ini secara berurutan:

1. Hindari Pembahasan Agama Dengan Orang Wahabi & Salafi  
Langkah ini ditujukan untuk menghindari perdebatan yang dapat memancing emosi yang bisa berakibat percekcokan dan rusaknya silaturrahmi. Sebab, tidak jarang mereka yang usil ini masih memiliki hubungan keluarga, nasab, atau kekerabatan dengan anda. Menjaga hubungan baik jauh lebih utama dari pada mendengarkan penjelasan atau dakwah yang berpotensi merusak hubungan baik itu.
Misalnya, ketika ia mulai berkata, "Dalam beragama, kita harus sesuai dengan al-Qur'an dan hadis-hadis yang shahih", atau "Tahlilan dan Maulid tidak diperintahkan di dalam agama dan tidak ada dasar atau dalilnya", atau "Semua amalan di dalam agama harus ada dasar/dalilnya dari al-Qur'an atau hadis", atau "Agama Islam sudah sempurna, tidak boleh ditambah-tambah", atau "Kalau ada waktu, saya harap anda hadir di pengajian rutin di tempat saya", dan lain sebagainya.
Maka jawablah dengan kalimat penghindaran atau pengalihan topik pembicaraan seperti:
  • "Maaf, saya tidak begitu tahu soal dalil atau dasar. Saya Cuma mengikuti apa yang diajarkan oleh para orang tua, para guru, dan para ulama. Dan saya yakin mereka punya alasan atau dalil yang kuat."
  • "Maaf, saya sedang tidak ingin membahas masalah agama. Jadi kita bahas masalah lain saja."
  • "Sudahlah, tentang pengamalan agama, masing-masing kita punya alasan. Lebih baik kita bicarakan peluang bisnis apa yang bisa kita garap."
  • "Sayang sekali, saya tidak bisa menyempatkan diri untuk hadir di pengajian anda. Lagipula, pengajian kan bukan di tempat anda saja."
  • "Maaf, saya sudah punya jadwal pengajian sendiri."
  • "Maaf, saya harus pergi karena ada urusan." (ini apabila dia terus memaksa anda untuk membahas agama).
2.Pinjamkan Buku-Buku yang Ditulis Ulama yang Membahas Persoalan Tersebut
Biasanya, sikap seseorang membenci suatu perkara adalah akibat dari ketidaktahuannya tentang alasan-alasan yang ada di balik perkara tersebut. Jadi, bila mereka tidak berhenti mengajak anda untuk membahas masalah Maulid, tahlilan, atau yang lainnya, maka pinjamkanlah kepadanya buku-buku yang anda punya yang membahas tentang hal-hal tersebut secara detail (tentunya anda harus punya, dan pernah membacanya). Suruhlah ia membacanya dengan pikiran terbuka, bukan dengan pandangan sinis. Dengan begitu anda telah memberinya jawaban tanpa harus berdebat dengannya. (Di antara buku yang sangat gamblang membahas hal-hal tersebut yang harus anda miliki adalah "I'tiqad Ahlus-Sunnah wal-Jama'ah"dan "40 Masalah Agama" yang ditulis oleh KH. Siradjuddin Abbas, juga buku "Kupas Tuntas Ibadah-ibadah Diperselisihkan" yang ditulis oleh Syekh Ali Jum'ah seorang Mufti di Mesir). Dan ingat, jangan baca buku-buku Wahabi & Salafi tanpa didampingi oleh orang alim.
3. Ajak Orang Wahabi & Salafi Itu Kepada Guru, Ustadz, Kiyai, atau Habib
Bila keusilan itu berlanjut di berbagai kesempatan atau pertemuan di kemudian hari, dan orang usil itu terus-menerus berupaya mempengaruhi atau membuka peluang perdebatan tentang urusan agama, maka ajaklah dia untuk membahasnya bersama guru atau ustadz anda, atau orang alim yang anda kenal. Dan jangan biarkan dia yang membawa anda kepada gurunya, sebab dengan begitu anda dikhawatirkan terkena pengaruh buruknya.
Misalnya, dalam kesempatan-kesempatan lain orang usil ini mengajak anda untuk kembali membahas urusan agama, maka katakanlah:
  • "Untuk lebih jelas, mari kita bahas masalah ini bersama guru/ustadz saya."
  • "Sebaiknya kita bahas masalah itu di rumah atau di majlis pengajian guru saya."
  • "Ustadz saya lebih mengerti tentang itu, kalau anda mau, saya antar anda untuk menemuinya."
Dalil sikap ini adalah firman Allah dalam surat An-Nahl : 43:
"… maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui."
4. Tunjukkan Penolakan yang Tegas
Bila ternyata, langkah 1-3 tidak berhasil, maka tunjukkan penolakan yang tegas kepada orang usil itu dengan mengatakan:
  • "Kalau anda ingin hubungan kita tetap baik, tolong berhenti membahas agama dengan saya."
  • "Saya tidak suka anda membahas keyakinan saya. Cukuplah sampai di sini, jangan anda lanjutkan."
  • "Saya berhak melakukan apa yang saya yakini, tolong jangan permasalahkan lagi."
  • "Bila anda tidak berhenti membahas, berarti anda sudah tidak menghargai saya. Dan saya tidak perlu mendengarkan anda lagi."
5.  Ancaman Perlawanan Secara Kasar
Bila langkah tersebut juga belum berhasil, maka tunjukkan ancaman perlawanan terlebih dahulu, mengingat orang usil ini sudah sampai pada tingkat memaksakan kehendak, dan itu melanggar undang-undang agama sekaligus undang-undang negara. Maka nyatakan perlawanan anda dengan agak keras, dengan mengatakan:
  • "Diam, atau anda akan saya laporkan kepada yang berwajib!"
  • "Cukup, atau anda akan saya tindak tegas!"
  • "Kesabaran saya sudah habis, lebih baik anda pergi sebelum  emosi saya tidak terkendali!"
  • "Jangan paksa saya, atau saya akan perangi anda!"
Dalil sikap ini adalah Sabda Rasulullah Saw.:
سَيَخْرُجُ قَوْمٌ فِي آخِرِ الزَّمَانِ أَحْدَاثُ اْلأَسْنَانِ سُفَهَاءُ اْلأَحْلاَمِ يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ الْبَرِيَّةِ لاَ يُجَاوِزُ إِيمَانُهُمْ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ فَأَيْنَمَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاقْتُلُوهُمْ فَإِنَّ فِي قَتْلِهِمْ أَجْرًا لِمَنْ قَتَلَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ (رواه البخاري)
"Akan keluar suatu kaum di akhir zaman, orang-orang muda usia, pendek akal, mereka berkata-kata dengan sebaik-baik perkataan manusia (al-Qur'an. atau hadis, atau perkataan baik yang bertolak belakang pengertiannya) yang  tidak melampaui kerongkongan mereka (tidak masuk ke dalam hati mereka). Mereka keluar dari agama seperti keluarnya anak panah dari busurnya. Maka, di mana saja kamu menjumpai mereka, perangilah, karena di dalam memerangi mereka terdapat pahala di hari Kiamat bagi yang melakukannya." (HR. Bukhari)
Ulama menafsirkan, "orang-orang muda usia yang pendek akal" itu adalah kaum Khawarij, yaitu golongan orang-orang yang sakit hati kepada Ali bin Abi Thalib Ra. dan Mu'awiyah bin Abi Sufyan Ra. beserta para pendukung keduanya. Ciri mereka kemudian dikenal dengan sikap bermudah-mudah menganggap sesat orang lain. Dan seorang ulama besar bernama Syekh Ibnu Abidin menyatakan, bahwa Khawarij di zaman kita ini adalah golongan Wahabi (lihat al-Maqaalaat as-Sunniyyah, hal. 51).

Penulis berharap, semoga langkah terakhir ini tidak perlu terlaksana, apalagi implementasinya, dan semoga mereka mengerti dengan langkah yang pertama saja sehingga tidak melanjutkan keusilan mereka terhadap orang-orang yang gemar Maulid, qunut shubuh, ziarah ke makam wali, atau tahlilan. 

By. Kisah Sahabat. http://www.kisahsahabat.com/

Kecemburuan Aisyah R.ha.

Cemburunya Aisyah R.ha.
Imam Muslim meriwayatkan  dari Aisyah R.ah.: Pada suatu malam Rasulullah pergi dariku , maka aku berkata, “Aku cemburu kepadanya.”
Kemudian Rasulullah datang dan melihat apa yang aku kerjakan, lalu bersabda, “Ada apa wahai Aisyah? Apakah engkau cemburu?”
Aku menjawab, “Tidak ada yang lebih cemburu daripada aku.”
Rasulullah bersabda, “Sungguh syetan telah mendatangimu.”
Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah bersamaku ada syetan?”
Rasulullah menjawab, “ Ya.”
Aku bertanya , “Yaa Rasulullah, apakah disampingmu juga ada syetan?”
Rasulullah menjawab, “Ya, akan tetapi Allah menolongku sehingga aku selamat.”

Imam  Abu Sa’ad meriwayatkan dari Aisyah: Ketika Rasulullah menikahi Ummu Salamah, aku sangat sedih karena mereka menceritakan kecantikannya. Maka aku bersikap lembut sampai aku melihat wajahnya. Setelah aku melihat wajahnya, demi Allah, menurutku jauh sekali daripada yang diceritakan orang-orang kepadaku mengenai kecantikannya dan keindahannya itu.
Kemudian aku menceritakannya kepada Hafshah, maka  dia berkomentar, “Sesungguhnya ini karena cemburu.”

Kemudian Hafshah bersikap  lembut sampai melihatnya. Maka dia berkata, “Aku telah melihatnya. Demi Allah, tidak seperti yang kamu ucapkan, Ummu Salamah memang cantik.”
Karena perkataan Hafsha itu, aku menyadari, memang aku seorang pencemburu.

Imam Rastusi meriwayatkan bahwa Ali r.a. berkata, “Telah sampai kepadaku dari perempuan-perempuan kalian, sesungguhnya mereka terhalangi keledai dipasar, apakah kalian tidak cemburu? Barangsiapa yang tidak cemburu maka tidak ada kebaikan baginya didalam dirinya.


Imam Rastusi juga meriwayatkan bahwa Ali r.a. berkata, “Cemburu itu ada dua: Pertama  cemburu yang baik, yaitu seorang  laki-laki yang berbuat baik kepada  keluarganya dikarenakan cemburu. Dan yang kedua adalah cemburu yang memasukkannya kedalam neraka.”

By. Kisah Sahabat. http://www.kisahsahabat.com/

Mutiara hikmah Syeikh Abdul Qadir Jailani

Risalah 3

Mutiara karya Syeikh Abdul Qadir Jailani

Apabila seorang hamba Allah mengalami kesulitan hidup, maka pertama-tama ia cuba mengatasinya dengan upayanya sendiri. Bila gagal ia mencari pertolongan kepada sesamanya, khususnya kepada raja, penguasa, hartawan; atau bila dia sakit, kepada doktor. Bila hal ini pun gagal, maka ia berpaling kepada Khaliqnya, Tuhan Yang Maha Besar lagi Maha Kuasa, dan berdo'a kepada-Nya dengan kerendah-hatian dan pujian. Bila ia mampu mengatasinya sendiri, maka ia takkan berpaling kepada sesamanya, demikian pula bila ia berhasil kerana sesamanya, maka ia takkan berpaling kepada sang Khaliq.

Kemudian bila tak juga memperolehi pertolongan dari Allah, maka dipasrahkannya dirinya kepada Allah, dan terus demikian, mengemis, berdo'a merendah diri, memuji, memohon dengan harap-harap cemas. Namun, Allah Yang Maha Besar dan Maha Kuasa membiarkan ia letih dalam berdo'a dan tak mengabulkannya, hingga ia sedemikian terkecewa terhadap segala sarana duniawi. Maka kehendak-Nya mewujud melaluinya, dan hamba Allah ini berlalu dari segala sarana duniawi, segala aktiviti dan upaya duniawi, dan bertumpu pada rohaninya.

Pada peringkat ini, tiada terlihat olehnya, selain kehendak Allah Yang Maha Besar lagi Maha Kuasa, dan sampailah dia tentang Keesaan Allah, pada peringkat haqqul yaqin (* tingkat keyakinan tertinggi yang diperolehi setelah menyaksikan dengan mata kepala dan mata hati). Bahawa pada hakikatnya, tiada yang melakukan segala sesuatu kecuali Allah; tak ada penggerak tak pula penghenti, selain Dia; tak ada kebaikan, kejahatan, tak pula kerugian dan keuntungan, tiada faedah, tiada memberi tiada pula menahan, tiada awal, tiada akhir, tak ada kehidupan dan kematian, tiada kemuliaan dan kehinaan, tak ada kelimpahan dan kemiskinan, kecuali kerana ALLAH.

Maka di hadapan Allah, ia bagai bayi di tangan perawat, bagai mayat dimandikan, dan bagai bola di tongkat pemain polo, berputar dan bergulir dari keadaan ke keadaan, dan ia merasa tak berdaya. Dengan demikian, ia lepas dari dirinya sendiri, dan melebur dalam kehendak Allah. Maka tak dilihatnya kecuali Tuhannya dan kehendak-Nya, tak didengar dan tak dipahaminya, kecuali Ia. Jika melihat sesuatu, maka sesuatu itu adalah kehendak-Nya; bila ia mendengar atau mengetahui sesuatu, maka ia mendengar firman-Nya, dan mengetahui lewat ilmu-Nya. Maka terkurniailah dia dengan kurnia-Nya, dan beruntung lewat kedekatan dengan-Nya, dan melalui kedekatan ini, ia menjadi mulia, redha, bahagia, dan puas dengan janji-Nya, dan bertumpu pada firman-Nya. Ia merasa enggan dan menolak segala selain Allah, ia rindu dan senantiasa mengingati-Nya; makin mantaplah keyakinannya pada-Nya, Yang Maha Besar lagi Maha Kuasa. Ia bertumpu pada-Nya, memperolehi petunjuk dari-Nya, berbusana nur ilmu-Nya, dan termuliakan oleh ilmu-Nya. Yang didengar dan diingatnya adalah dari-Nya. Maka segala syukur, puji, dan sembah tertuju kepada-Nya.

By. Kisah Sahabat. http://www.kisahsahabat.com/

Inilah Ciri ciri sebuah Aliran Dikatakan Sesat

CIRI-CIRI ALIRAN SESAT 

Berikut ini, penulis merasa perlu mengemukakan ciri-ciri yang dapat dijadikan barometer untuk menilai, apakah suatu paham atau aliran itu sesat atau tidak. Ciri-ciri ini diambil dari gambaran umum berbagai macam paham dan aliran yang sudah disebutkan oleh para ulama. Dan adalah sangat penting bagi masyarakat umum untuk mengetahuinya, menimbang tidak setiap orang dapat menilai atau mengenali sisi kesesatan secara detail dari suatu paham atau aliran. Ciri-ciri umum aliran sesat tersebut adalah sebagai berikut:

1. Menggunakan al-Qur'an atau Hadis Untuk Mendoktrin atau Mempengaruhi Korbannya . Karena setiap orang Islam tahu bahwa al-Qur'an itu wahyu Allah, dan Hadis itu sabda Rasulullah Saw. yang tidak pantas dibantah, maka banyaklah orang yang terpedaya oleh doktrin mereka. Seandainya mereka menggunakan selain keduanya, sudah sejak awal doktrin mereka pasti ditolak. Terbukti, al-Qiyadah al-Islamiyah pimpinan Mushaddeq, Ahmadiyah, Kerajaan Eden, N11, Qur'an Suci, Islam Jama'ah, dan Inkar Sunnah, adalah aliran sesat yang jelas-jelas menggunakan ayat-ayat al-Qur'an. 

Bila dinyatakan, "Setiap yang mengambil dasar dari al-Qur'an dan hadis itu pasti benar!" Maka kita bisa menjawab, bahwa "al-Qur'an atau Hadis itu memang benar, tetapi penjelasan orang terhadapnya lah yang belum tentu benar". Maka sikap kita ketika ada orang yang menjelaskan ayat al-Qur'an atau hadis, waspadailah dengan cara mengkonfirmasikannya kepada para guru atau alim ulama yang sudah dikenal dan diakui di masyarakat. Yang sedemikian agar kita selamat dari penjelasan yang ganjil atau sesat yang seringkali menipu kalangan awam sehingga diyakini sebagai kebenaran. 

2. Menanamkan Rasa Percaya Diri yang Terlalu Kepada Pengikutnya . Terbukti, para pengikut aliran sesat itu seringkali berani menceramahi atau menyalahkan orang, padahal mereka baru belajar 2 minggu atau satu bulan. Mereka berani mengkaji ayat al-Qur'an atau hadis di depan orang lain, padahal tidak ada bekal yang cukup untuk itu. Lebih buruk lagi, mereka merasa paling benar, dan orang lain dianggap salah. Ini akibat rasa percaya diri yang terlalu tinggi yang mendorong mereka menjadi orang-orang sombong. Sikap ekslusivisme (merasa istimewa) seperti ini membuat mereka merasa paling pantas masuk Surga, sedang selain mereka layak masuk Neraka. 

3. Menyalahi Paham Mayoritas Ulama dan Umat . Umumnya, fatwa-fatwa aliran sesat itu bertolak belakang dari paham mayoritas ulama umat Islam (baik salaf maupun khalaf). Sebut saja di antaranya: Sholat bukan sembahyang tetapi amar ma'ruf nahi munkar, sholat itu hanya satu waktu, puasa itu hanya menahan diri dari makanan yang bernyawa, pergi haji itu bukan ibadah tetapi napak tilas, hadis itu perkataan manusia yang dibuat-buat dan diriwayatkan bukan perkataan Nabi Saw., mengaku jadi nabi, mengaku menerima wahyu, dan lain sebagainya. Rasulullah Saw. sudah memberikan pedoman, bahwa bila ada perbedaan di dalam agama tentang apa saja (termasuk penentuan bulan Ramadhan dan Idul Fitri, atau amalan-amalan kebaikan secara umum), hendaknya kita mengikuti paham ulama yang terbanyak, sebagaimana sabdanya: 
إ ِنَّهُ سَيَكُونُ بَعْدِي هَنَاتٌ وَهَنَاتٌ فَمَنْ رَأَيْتُمُوهُ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ أَوْ يُرِيدُ يُفَرِّقُ أَمْرَ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَائِنًا مَنْ كَانَ فَاقْتُلُوهُ فَإِنَّ يَدَ اللَّهِ عَلَى الْجَمَاعَةِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ مَعَ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ يَرْكُضُ (رواه النسائي) 

"Sesungguhnya akan ada setelahku kejelekan dan kerusakan. Maka barang siapa yang melihat orang yang memisahkan diri dari jama'ah (mayoritas umat Islam) atau ingin memecah urusan (agama) umat Muhammad Saw. yang secara nyata terjadi, maka perangilah. Sesungguhnya rahmat Allah atas jama'ah. Sesungguhnya syetan berlari bersama orang yang memisahkan diri dari jama'ah" (HR. An-Nasa'i). 

إِنَّ أُمَّتِي لاَ تَجْتَمِعُ عَلَى ضَلاَلَةٍ فَإِذَا رَأَيْتُمْ اخْتِلاَفًا فَعَلَيْكُمْ بِالسَّوَادِ اْلأَعْظَمِ (رواه ابن ماجة) 

"Sesungguhnya umatku tidak akan berkumpul (untuk bersepakat) atas kesesatan. Maka apabila kalian mendapati perbedaan pendapat, hendaklah kalian mengikuti kelompok (ulama) yang terbesar (terbanyak)" (HR. Ibnu Majah). 

4. Menjauhkan Orang dari Ulama . Paham atau aliran sesat memiliki ciri khas ini, entah menjauhkan orang dari ulama, atau menjauhkan orang dari kesepakatan mayoritas ulama. Bahkan lebih buruk lagi, mereka menanamkan kebencian terhadap ulama. Mengapa? Karena bila orang kembali kepada ulama atau kitab-kitab ulama, maka ia tidak akan terpengaruh oleh paham atau aliran sesat. Ulama dan kitab-kitabnya dalam hal ini dianggap sebagai ancaman sekaligus penghalang bagi orang-orang sesat untuk menyebarkan pahamnya. Secara otomatis berlakulah hukum ini, "Barang siapa yang sering berkumpul dengan ulama atau hadir di majlis pengajian para ulama, jauh dari peluang kesesatan." Kebalikannya tentu mudah ditebak, dan itu cukup menjelaskan kenapa aliran sesat kok banyak pengikutnya.  

Pertanyaannya, apakah Wahabi & Salafi termasuk paham atau aliran sesat? Jawabnya, … Potensi kesesatan itu terbuka untuk mereka bila ciri-ciri di atas terbukti ada pada sikap para penganutnya. Pernyataan "sesat" terhadap mereka sebenarnya sudah sejak dahulu dilansir oleh para ulama di dalam kitab-kitab mereka. Tetapi kita tetap menghukumkan mereka sebagai orang Islam, hanya saja mereka perlu diluruskan pemahamannya.


By. Kisah Sahabat. http://www.kisahsahabat.com/

Islamnya Zaid bin Sun’ah al Isra’ili R.a. Yahudi Yang Masuk Islam Karena Akhlak Rasulullah

Islamnya Zaid bin Sun’ah al Isra’ili R.a.
Diriwayatkan oleh ath Thabrani dari Abdullah bin Salam r.a. katanya: Taktala  Allah Azza wa Jalla menghendaki Zaid bin Sun’ah mendapat hidayah, ia berkata, “Tiada  satu pun dari tanda tanda kenabian, melainkan aku telah mengenalinya pada wajah Muhammad, ketika aku melihatnya, kecuali dua yang belum aku saksikan, :yaitu kesabarannya mengatasi perbuatan bidihnya, dan perbuatan bodoh yang  menimpanya tidak membuat beliau  bertambah selain kesabaran semata.”

Zaid bin Sun’ah menceritakannya: Pada suatu hari Rasulullah keluar dari rumah-rumah istrinya dan ketika itu Ali bin Abi Thalib bersama dengannya. Kemudian Nabi didatangi oleh seorang lelaki yang sedang berada diatas tunggannya, tampaknya ia orang Badui dan berkata, “Wahai Rasulullah, aku mempunyai beberapa teman yang yang berada dikampung Bani  Fulan yang telah memeluk agama Islam. Aku dahulu telah member tahu mereka bahwa jika mereka memeluk Islam, maka rezeki mereka akan berlimpah. Saat ini mereka ditimpa musibah dengan menglami kemarau, kepayahan dan hujan yang tidak bpernah turun. Wahai Rasulullah, sesungghunya aku takut jika mereka mengalami penderitaan seperti itu, maka mereka akan keluar dari agama Islam dengan mudah sebagaimana mereka dahulu begitu semangat memeluk Islam. Jika engkau menghendaki untuk mengirimkan bantuan kepada mereka yang dapat mengurangi penderitaan mereka, sebaiknya segera engkau lakukan.”
Rasulullah memandang lelaki yang berada disampingnya, yang kukira ia adalah Ali bin Abi Thalib. Kata Ali, “Wahai Rasulullah, tidak ada sesuatupun yang masih tersisa.”
Zaid bin Sun’ah berkata: Aku pun mendekati beliau dan berkata, “Wahai Muhammad, maukah engkau berhutang uang senilai kurma seberat sekian kepadaku dengan syarat engkau menyerahkan dengan jumlah sekian yang ada di kebun Bani Fulan, sampai masa tertent, yaitu masa ini dan itu?”
Rasulullah bersabda, “Baiklah, tapi jangan kau sebutkan kebun Bani Fulan.”
Setelah Rasulullah menyetujuinya, aku pun mengeluarkan kantong uangku dan memberikan delapan puluh keeping emas yang akan dibayar dalam jangka waktu tertentu dengan buah kurma seberat tertentu. Rasululleh memberikan emas itu kepada lelaki itu dan bersabda, “Berbuat adilah kepada mereka dan bantulah mereka.”
Dua atau tiga hari sebelum tiba waktunya membayar utang itu, Rasulullah keluar bersama Abu Bakar, Umar, dan Utsman dalam satu rombongan sahabat. Setelah Rasulullah menyalati satu jenazah dan mendekati dinding untuk bersandar padanya, aku mendekati Rasulullah kemudian menarik tempat bertemunya baju dan kain selendangnya (bagian pundak) dan kupandang beliau dengan wajah bengis. Aku berkata, “Wahai Muhammad, apakah engkau tidak mau menunaikan hakku (hutangnya)? Demi Allah, aku tidak mengetahui  mengenai Bani Abdul Muthalib, melainkan mereka adalah orang yang suka menangguhkan hutang. Sekarang aku telah memiliki ilmu bagaimana mempergauli kalian.”
Aku memandang Umar dan kedua bola matanya yang berputar putar bagaikan bintang. Ia melemparkan pandangannya kepadaku seraya berkata, “Kamu berani mengatakan kepada Rasulullah apa yang kudengar barusan? Kamu berani memperbuat kepada beliau apa saja yang baru kusaksikan? Demi Dzat Yang memgang nyawaku! Kalaulah bukan karena  sesuatu yang aku kuawatirkan akan hilang, sudah pasti aku akan memenggal lehermu.”

Rasulullah bersabda

By. Kisah Sahabat. http://www.kisahsahabat.com/

Jangan Mudah Menilai Negatif hadits Dha'if

Di kalangan masyarakat awam, penulis melihat adanya kecenderungan menganggap bahwa hadis dha'if (lemah) sebagai hadis yang tidak dapat dijadikan hujjah atau dalil dalam melakukan suatu amalan. Hal ini diakibatkan oleh penyebutannya yang seringkali terkesan negatif dan terpisah-pisah (yaitu hanya menyebut kelemahan suatu riwayat hadis tanpa mengkonfirmasikannya dengan riwayat-riwayat lain yang semakna, yang mungkin dapat mengangkat statusnya dari kelemahan). Padahal, kelemahan suatu riwayat bisa sangat relatif sifatnya, bisa sedikit dan bisa juga banyak. Dan apa yang mungkin tidak diketahui oleh seorang periwayat hadis secara pasti, sangat mungkin diketahui oleh periwayat yang lain, sebagaimana sisi kekuatan suatu riwayat hadis yang diketahui oleh seorang ahli hadis, sangat mungkin tidak diketahui oleh ahli hadis yang lain. Imam Ibnu Katsir menyebutkan:
  وقد نبه الشيخ أبو عمرو ههنا على أنه لا يلزم من الحكم بضعف سند الحديث المعير الحكم بضعفه في نفسه، إذ قد يكون له إسناد آخر، إلا أن ينص إمام على أنه لا يروى إلا من هذا الوجه . (الباعث الحثيث شرح اختصار علوم الحديث للحافظ ابن كثير، أحمد مجمد شاكر، دار الكتب العلمية، بيروت، ص. 85)
"Dan Syaikh Abu 'Amr telah memperingati di sini bahwasanya tidak lazim menghukumi kedha'ifan sanad (jalur riyawat) suatu hadis yang dianggap cacat semata-mata dari hukum dha'ifnya sanad hadis tersebut, dikarenakan ter kadang hadis itu memiliki pensanadan (jalur periwayatan) lain, kecuali bila ada seorang Imam hadis yang menyatakan bahwa hadis tersebut tidak diriwayatkan kecuali hanya melalui jalur ini. " (Lihat al-Ba'its al-Hatsits Syarh Ikhtishar 'Ulum al-Hadits lilhafizh Ibni Katsir, Ahmad Muhammad Syakir, Dar al-Kutub al-'Ilmiyah, Beirut, hal. 85).
Pada kitab dan halaman yang sama, Syaikh Ahmad Muhammad Syakir menerangkan ungkapan itu dengan penjelasan berikut: 
من وجد حديثا بإسناد ضعيف، فلأحوط أن يقول: "إنه ضعيف بهذا الإسناد"، ولا يحكم بضعف المتن –مطلقا من غير تقييد- بمجرد ضعف ذلك الإسناد، فقد يكون الحديث واردا بإسناد آخر صحيح، إلا أن يجد الحكم بضعف المتن منقولا عن إمام من الحفاظ والمطلعين على الطرق. 
"Siapa yang mendapati sebuah hadis dengan pensanadan (jalur periwayatan) yang dha'if, maka yang lebih aman hendaknya ia berkata, 'sesungguhnya hadis ini dha'if dengan jalur periwayatan ini', dan matan (redaksi/lafaz) hadis tersebut tidak dihukumi dha'if –secara umum tanpa ikatan— semata-mata karena lemahnya jalur periwayatan tersebut, maka terkadang hadis tersebut datang (diriwayatkan) dengan jalur periwayatan lain yang shahih, kecuali bila ditemukan hukum kedha'ifan matan (redaksi/lafaz)nya yang dinukil dari seorang Imam dari kalangan Huffazh (penghafal hadis) yang meneliti jalan-jalannya (jalur-jalur  periwayatan hadis).    
Penjelasan di atas adalah kelaziman yang harus dilakukan seorang penerima hadis pada saat ia mendapatkan informasi bahwa suatu hadis itu dha'if (lemah), di mana ia tidak serta merta langsung menyatakan hukum dha'if secara mutlak, apalagi menyatakan bahwa hadis dha'if tersebut tidak boleh diamalkan atau dijadikan hujjah atau dalil.
Hadis dha'if berbeda dari hadis maudhu' (palsu). Hadis dha'if tetap harus diakui sebagai hadis, dan menjadikannya sebagai dalil atau dasar untuk melakukan suatu amalan kebaikan yang berkaitan dengan fadha'il al-a'mal (keutamaan amalan) adalah sah menurut kesepakan para ulama hadis. Perhatikan isyarat-isyarat para ulama berikut ini:
مع أنهم أجمعوا على جواز العمل بالحديث الضعيف في فضائل الأعمال (شرح سنن ابن ماجه ج: 1 ص: 98)
"… sementara mereka (para ahli hadis) telah berijma' (bersepakat) atas bolehnya mengamalkan hadis dha'if (lemah) di dalam fadha'il al-a'mal (keutamaan amalan) " (lihat Syarh Sunan Ibnu Majah, juz 1, hal. 98).
باب التشدد في أحاديث الأحكام والتجوز في   فضائل الأعمال. قد ورد واحد من السلف انه لا يجوز حمل الأحاديث المتعلقة بالتحليل والتحريم الا عمن كان بريئا من التهمة بعيدا من الظنة واما أحاديث الترغيب والمواعظ ونحو ذلك فإنه يجوز كتبها عن سائر المشايخ (الكفاية في علم الرواية، الخطيب البغدادي، ج. 1، ص. 133)
"Bab bersikap ketat pada hadis-hadis hukum, dan bersikap longgar pada fadha'il al-a'mal. Telah datang satu pendapat dari seorang ulama salaf bahwasanya tidak boleh membawa hadis-hadis yang berkaitan dengan penghalalan dan pengharaman kecuali dari orang (periwayat) yang terbebas dari tuduhan, jauh dari dugaan. Adapun hadis-hadis targhib (stimulus/anjuran) dan mawa'izh (nasehat) dan yang sepertinya, maka boleh menulisnya (meriwayatkannya) dari seluruh masyayikh (para periwayat hadis)" (lihat al-Ba'its al-Hatsits Syarh Ikhtishar 'Ulum al-Hadits lilhafizh Ibni Katsir, Ahmad Muhammad Syakir, Dar al-Kutub al-'Ilmiyah, Beirut, hal. 85).    
قال: ويجوز رواية ما عدا الموضوع في باب الترغيب والترهيب، والقصص والمواعظ، ونحو ذلك، إلا في صفات الله عز وجل، وفي باب الحلال والحرام. (الباعث الحثيث شرح اختصار علوم الحديث للحافظ ابن كثير، أحمد مجمد شاكر، دار الكتب العلمية، ص. 85)
"(Ibnu Katsir) berkata: 'Dan boleh meriwayatkan selain hadis maudhu' (palsu) pada bab targhib (stimulus/anjuran) dan tarhib (ancaman), kisah-kisah dan nasehat, dan yang seperti itu, kecuali pada sifat-sifat Allah 'Azza wa Jalla dan pada bab halal & haram" (lihat al-Ba'its al-Hatsits Syarh Ikhtishar 'Ulum al-Hadits lilhafizh Ibni Katsir, Ahmad Muhammad Syakir, Dar al-Kutub al-'Ilmiyah, Beirut, hal. 85).
Dan banyak lagi pernyataan-pernyataan ulama hadis tentang hal tersebut yang tidak mungkin disebutkan keseluruhannya di sini.
Kaitannya dengan pembahasan bid'ah adalah bahwa kaum Salafi & Wahabi terkesan mudah mengkategorikan suatu amalan sebagai bid'ah, atau minimal sebagai amalan yang harus dihindari  hanya karena hadis yang dijadikan dalil untuk itu mereka anggap dha'if. Padahal, amalan-amalan yang didasari oleh hadis-hadis dha'if tersebut tergolong  fadha'il al-a'mal (keutamaan amalan) atau furu' (perkara cabang) yang bukan pokok di dalam penentuan hukum agama. Contohnya, hadis-hadis yang dijadikan dalil untuk menghadiahkan pahala bacaan al-Qur'an kepada mayit. Al-Imam Jalaluddin as-Suyuthi menyatakan:
  واستدلوا على الوصول، وبالقياس على ما تقدم من الدعاء والصدقة والصوم والحج والعتق، فإنه لا فرق في نقل الثواب بين أن يكون عن حج أو صدقة أو وقف أو دعاء أو قراءة، وبالأحاديث الآتي ذكرها، وهي وإن كانت ضعيفة، فمجموعها يدل على أن لذلك أصلا، وبأن المسلمين ما زالوا في كل عصر، يجتمعون ويقرؤون لموتاهم من غير نكير، فكان ذلك إجماعا. ذكر ذلك كله الحافظ شمس الدين بن عبد الواحد المقدسي الحنبلي في جزء ألفه في المسألة. (شرح الصدور بشرح حال الموتى والقبور، الحافظ جلال الدين السيوطي، دار الفكر، بيروت، ص. 269)
"Dan mereka (jumhur ulama) mengambil dalil atas sampainya (hadiah pahala kepada mayit), dan dengan qiyas kepada apa yang telah disebutkan daripada do'a, sedekah, puasa, haji, dan memerdekakan budak, maka sesungguhnya tidak ada beda dalam hal memindahkan pahala antara entahkah amalan itu haji, sedekah, wakaf, do'a, atau bacaan al-Qur'an. Dan dengan hadis-hadis yang akan disebutkan, meskipun dha'if, maka semuanya menunjukkan bahwa hal tersebut (menghadiahkan pahala kepada mayit) memiliki asal (landasan di dalam agama), dan bahwa kaum muslimin di setiap masa masih terus berkumpul dan membacakan al-Qur'an untuk mayit-mayit mereka tanpa ada yang mengingkarinya, maka menjadilah hal itu sebagai ijma'. Semua itu telah disebutkan oleh al-Hafizh Syamsuddin bin Abdul Wahid al-Maqdisi al-Hanbali di dalam sebuah juz yang ia tulis tentang masalah tersebut." (Lihat Syarh al-Shudur bi Syarh Hal al-Mauta wa al-Qubur, al-Hafizh Jalaluddin as-Suyuthi, Dar el-Fikr, Beirut, hal. 269).
Demikianlah contoh kearifan para ulama hadis dalam menilai dan menyikapi dalil-dalil yang secara zhahir dianggap dha'if. Sayangnya sikap seperti ini tidak ditiru oleh orang-orang yang gemar sekali menuduh bid'ah setiap perkara baru berbau agama. Terkadang bermodalkan sedikit pengetahuan tentang tahqiq al-hadits (penelitian hadis) mereka dengan mudahnya mencampakkan suatu amalan ke dalam keranjang bid'ah sesat hanya karena mereka nilai dalilnya dha'if (lemah). 

Ini adalah sebuah masalah yang kerapkali muncul di kalangan para pelajar ilmu hadis, terutama bagi mereka yang baru merasa bisa meneliti hadis sendiri. Yang kemudian menambah masalah tersebut semakin tidak karuan adalah ketika dalam menyebutkan kedha'ifan hadis tersebut, orang-orang tersebut sering mendasarinya dengan penilaian hadis menurut Syaikh Nashiruddin al-Albani yang kredibilitasnya tidak diakui oleh para ulama hadis, sebagaimana akan dibahas setelah ini.  

By. Kisah Sahabat. http://www.kisahsahabat.com/

Siapa itu Wahabi Salafi? Inilah Sejarah singkat Wahabi Salafi

Salafi atau Salafiyah adalah sebutan untuk kelompok atau paham keagamaan yang dinisbatkan kepada Ahmad Taqiyuddin Ibnu Taimiyah ( 661 H-728 H) atau yang sering dikenal dengan panggilan Ibnu Taimiyah. Salafi atau Salafiyah itu sering dipahami sebagai gerakan untuk kembali kepada al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah Saw. beserta para Sahabat beliau.

Wahabi atau Wahabiyah adalah sebutan untuk kelompok atau paham keagamaan yang dinisbatkan kepada pelopornya yang bernama Muhammad bin Abdul Wahab (1702 M-1787 M/ 1115 H-1206 H). sebetulnya, nama Wahabi ini tidak sesuai dengan nama pendirinya, Muhammad, tetapi begitulah orang-orang menyebutnya. Sedangkan para pengikut Wahabi menamakan diri mereka dengan al-Muwahhiduun (orang-orang yang mentauhidkan Allah), meskipun sebagian mereka juga mengakui sebutan Wahabi.

Kedua paham di atas, Salafi & Wahabi, sebenarnya memiliki hubungan tidak langsung yang cukup erat, yaitu bahwa Muhammad bin Abdul Wahab adalah termasuk pengagum Ibnu Taimiyah dan banyak terpengaruh oleh karya-karya tulis Ibnu Taimiyah. Itulah mengapa kedua ajaran mereka memiliki kesamaan visi dan misi, yaitu "Kembali kepada Al-Qur'an & Sunnah Rasulullah Saw. beserta para Sahabat beliau," sehingga apa saja yang "mereka anggap" tidak ada perintah atau anjurannya di dalam Al-Qur'an, Sunnah, atau atsar Sahabat Nabi Saw., langsung mereka anggap sebagai bid'ah (perkara baru yang diada-adakan) yang diharamkan dan dikategorikan sebagai kesesatan, betapapun bagusnya bentuk suatu kegiatan keagamaan tersebut, dengan dasar hadis Nabi Saw. "… kullu bid'atin dhalalah, wa kullu dhalalatin fin-naar" (setiap bid'ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan akan dimasukkan ke dalam Neraka). Dengan visi dan misi inilah maka para pengikut mereka di zaman ini menamai diri mereka dengan sebutan Ahlus-Sunnah wal-Jama'ah(penganut Sunnah Nabi Muhammad Saw. & para Sahabat beliau) yang pada hakikatnya berbeda dari pengertian Ahlus-sunnah wal-Jama'ah yang dipahami oleh para ulama Islam di dunia (yaitu yang mempunyai hubungan historis dengan al-Asy'ari dan al-Maturidi ). 

Visi  "kembali kepada al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah Saw. serta para Sahabatnya"  tersebut telah mendorong mereka untuk melaksanakan sebuah misi "memberantas Bid'ah & Khurafat". Sekilas visi & misi itu terlihat sangat bagus, namun dalam prakteknya ternyata seringkali menjadi sangat berlebihan. Mengapa? Karena semua bid'ah & khurafat yang mereka anggap sesat dan wajib diberantas itu mereka definisikan sendiri tanpa mengkompromikan dengan definisi atau penjelasan para ulama terdahulu. Terbukti, pada masa hidupnya saja, baik Ibnu Taimiyah maupun Muhammad bin Abdul Wahab, sudah dianggap "aneh" bahkan cenderung dianggap sesat ajarannya oleh para ulama pengikut empat Mazhab (Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hambali) yang keseluruhannya menganut paham ahlus-Sunnah wal-jama'ah.

Hal itu terjadi karena Ibnu Taimiyah kerapkali mengeluarkan fatwa-fatwa ganjil mengenai aqidah atau syari'at yang menyelisihi ijma' para ulama, sehingga ia sering ditangkap, disidang, dan dipenjara, sampai-sampai ia wafat di dalam penjara di Damaskus. Dan tercatat ada 60 ulama besar (baik yang sezaman dengan Ibnu Taimiyah maupun yang sesudahnya) yang menulis pembahasan khusus untuk mengungkap kejanggalan dan kekeliruan pada sebagian fatwa-fatwa Ibnu Taimiyah dalam begitu banyak karyanya (lihat al-Maqaalaat as-Sunniyyah karya Syaikh Abdullah al-Harary).
Sedangkan Muhammad bin Abdul Wahab yang datang belakangan jauh lebih beruntung. Ia didukung oleh seorang Raja yang berhasil menguasai Mekkah (Hijaz) yang bernama Muhammad bin Sa'ud atau lebih dikenal dengan Ibnu Sa'ud (penaklukan Hijaz ke-I th. 1803-1813 M, penaklukan ke-II th. 1925 M masa Raja Abdul Aziz bin Sa'ud dengan bantuan Inggris sampai sekarang). Itulah mengapa Mekkah, Madinah dan sekitarnya sekarang dikenal dengan "Saudi"/Sa'udi Arabia (dinisbatkan kepada Ibnu/bin Sa'ud atau Aalu Sa'ud/keluarga Sa'ud). Dengan dukungan kekuasaan dan dana dari Raja Ibnu Sa'ud itulah maka ajaran Wahabi menjadi paham wajib di Saudi Arabia, dan menyebar luas sekaligus membuat resah umat Islam di negeri-negeri yang lain.

Mengapa Wahabi dianggap meresahkan? Karena fatwa-fatwa ulama Wahabi tentang bid'ah dan khurafat yang disebarluaskan itu seringkali berbenturan dengan adat istiadat atau tradisi keagamaan umat Islam di masing-masing negeri, padahal tradisi mereka itu telah berlangsung sejak puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu dan telah dijelaskan kebolehan atau keutamaannya oleh para ulama ahlus-Sunnah wal-jama'ah. Tradisi keagamaan yang sering dianggap bid'ah dan sesat itu di antaranya: Peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw., tahlilan kematian, do'a dan zikir berjama'ah, ziarah kubur, tawassul, membaca al-Qur'an di pekuburan, qunut shubuh, dan lain sebagainya yang masing-masing memiiki dasar di dalam agama. Jelasnya, keresahan itu muncul karena fatwa-fatwa para pengikut Muhammad bin Abdul Wahab (Wahabi) tersebut bertentangan dengan fatwa-fatwa mayoritas ulama yang dijadikan pedoman oleh mayoritas umat Islam di dunia. Akibatnya mereka menjadi seperti orang usil yang selalu menyalahkan dan mempermasalahkan amalan orang lain, lebih dari itu bahkan mereka menganggap sesat orang yang tidak sejalan dengan Wahabi.

(Untuk lebih jelas, baca "I'tiqad Ahlussunnah Wal-Jama'ah" karya KH. Siradjuddin Abbas, diterbitkan oleh Pustaka Tarbiyah Jakarta. Juga baca "Maqaalaat as-Sunniyyah fii Kasyfi Dhalaalaati Ibni Taimiyah", karya Syaikh Abdullah al-Harary, diterbitkan oleh Daarul-Masyaarii' al-Khairiyyah, Libanon).  

Ajaran Salafi Ibnu Taimiyah dilanjutkan oleh murid-muridnya, di antara yang paling dikenal adalah Ibnul Qayyim al-Jauziyah. Sedangkan ajaran Wahabi disebarluaskan oleh para ulama Wahabi yang diakui di Saudi Arabia, yang paling dikenal di antaranya adalah: Nashiruddin al-Albani, Abdul Aziz bin Baz, Shalih al-Utsaimin, Shalih bin Fauzan al-Fauzan, Abdullah bin Abdurrahman al-Jibrin, dan lain-lain. Namun begitu, kita berusaha bersikap proporsional dalam menyikapi ajaran yang mereka sampaikan. Artinya, apa yang baik dan sejalan dengan pendapat para ulama mayoritas maka tidak kita kategorikan ke dalam penyimpangan atau kesesatan.  

Perlu diketahui , bahwa meskipun dasar kemunculannya berbeda, namun belakangan Salafi & Wahabi seperti satu tubuh yang tidak bisa dibedakan, yaitu sama-sama memandang sesat atau bid'ah terhadap acara Peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw., tahlilan kematian, ziarah kubur, tawassul, menghadiahkan pahala kepada orang meninggal, berdo'a & berzikir berjama'ah, bersalaman selesai shalat berjama'ah, membaca al-Qur'an di pekuburan, berdo'a menghadap kuburan, dan lain sebagainya. Dan boleh dikatakan, bahwa Salafi & Wahabi sekarang sudah menjadi mazhab tersendiri yang lebih ekstrim dalam berfatwa ketimbang Ibnu Taimiyah atau Muhammad bin Abdul Wahab sendiri.  


Ulama Wahabi
Di Indonesia, fatwa-fatwa Salafi & Wahabi banyak disebarluaskan oleh para mahasiswa atau sarjana yang sebagian besarnya adalah alumni Perguruan Tinggi di Saudi Arabia atau mereka yang mendapat beasiswa di lembaga pendidikan Saudi Arabia. Di samping itu, paham Wahabi juga disebarluaskan melalui buku-buku terjemahan, yang kini menghiasi berbagai toko buku atau stan-stan pameran buku. Bahkan, buku–buku mereka juga dibagi-bagi secara gratis, baik melalui Atase Kedubes Saudi Arabia, maupun lembaga pendidikan Saudi Arabia seperti LIPIA atau yang lainnya. Buku-buku seperti itu juga dibagikan kepada semua Jama'ah Haji secara gratis setiap tahunnya, akibatnya sebagian mereka mengalami perang batin dalam menimbang-nimbang kebenaran. 
Demikianlah sekelumit tentang wahabi Salafi, semoga menjadi renungan bagi kita
By. Kisah Sahabat. http://www.kisahsahabat.com/

Inilah Contoh Pertanyaan Umum Wahabi dan Cara Jawabnya.


Inilah Contoh Pertanyaan Umum Wahabi dan Cara Jawabnya.

Wahabi & Salafi (WS): "Maulid dan tahlilan itu haram, dilarang di dalam agama."
Ahlussunnah (AJ) : "Yang dilarang itu bid'ah, bukan Maulid atau tahlilan, bung!

WS : "Maulid dan tahlilan tidak ada dalilnya."
AJ : "Makanya jangan cari dalil sendiri, nggak bakal ketemu. Tanya dong sama guru, dan baca kitab ulama, pasti ketemu dalilnya."

WS : "Maulid dan tahlilan tidak diperintah di dalam agama."
AJ : "Maulid dan tahlilan tidak dilarang di dalam agama."

WS : "Tidak boleh memuji Nabi Saw. secara berlebihan."
AJ : "Hebat betul anda, sebab anda tahu batasnya dan tahu letak berlebihannya. Padahal, Allah saja tidak pernah membatasi pujian-Nya kepada Nabi Saw. dan tidak pernah melarang pujian yang berlebihan kepada beliau."

WS : "Maulid dan tahlilan adalah sia-sia, tidak ada pahalanya."
AJ : "Sejak kapan anda berubah sikap seperti Tuhan, menentukan suatu amalan berpahala atau tidak, Allah saja tidak pernah bilang bahwa Maulid dan tahlilan itu sia-sia."

WS : "Kita dilarang mengkultuskan Nabi Saw. sampai-sampai menganggapnya seperti Tuhan."
AJ : "Orang Islam paling bodoh pun tahu, bahwa Nabi Muhammad Saw. itu Nabi dan Rasul, bukan Tuhan."

WS : "Ziarah ke makam wali itu haram, khawatir bisa membuat orang jadi musyrik."
AJ : "Makanya, jadi orang jangan khawatiran, hidup jadi susah, tahu."

WS : "Mengirim hadiah pahala kepada orang meninggal itu percuma, tidak akan sampai."
AJ : "Kenapa tidak! kalau anda tidak percaya, silakan anda mati duluan, nanti saya kirimkan pahala al-Fatihah kepada anda."

WS : "Maulid itu amalan mubazir. Daripada buat Maulid, lebih baik biayanya buat menyantuni anak yatim."
AJ : "Cuma orang pelit yang bilang bahwa memberi makan atau berinfak untuk pengajian itu mubazir. Sudah tidak menyumbang, mencela pula."

WS : "Maulid dan tahlilan itu bid'ah, tidak ada di zaman Nabi saw."
AJ : "Terus terang, Muka anda juga bid'ah, karena tidak ada di zaman Nabi Saw."

WS : "Semua bid'ah (hal baru yang diada-adakan) itu sesat, tidak ada bid'ah yang baik/hasanah."
AJ : "Saya ucapkan selamat menjadi orang sesat. Sebab Nabi Saw. tidak pernah memakai resleting, kemeja, motor, atau mobil seperti anda. Semua itu bid'ah, dan semua bid'ah itu sesat." 

WS : "Kasihan, masyarakat banyak yang tersesat. Mereka melakukan amalan bid'ah yang berbau syirik."
AJ : "Sudah lah, kalau anda masih bodoh, belajarlah dulu, sampai anda bisa melihat jelas kebaikan di dalam amalan mereka."

WS : "Saya menyesal dilahirkan oleh orang tua yang banyak melakukan bid'ah."
AJ : "Orang tua anda juga pasti sangat menyesal karena telah melahirkan anak durhaka yang sok pintar seperti anda."

WS : "Para penceramah di acara Maulid, bisanya hanya mencaci maki dan memecah belah umat."
AJ : "Sebetulnya, para penceramah itu hanya mencaci maki orang seperti anda yang kerjanya menebar keresahan dan benih perpecahan di kalangan umat."

WS : "Qunut Shubuh itu bid'ah, tidak ada dalilnya, haram hukumnya."
AJ : "Kasihan, rokok apa yang anda hisap? Setahu saya, di dalam iklan, merokok Star Mild hanya membuat orang terobsesi menjadi sutradara atau orator. Sedangkan anda sudah terobsesi menjadi ulama besar yang mengalahkan Imam Syafi'I yang mengamalkan qunut shubur. Lebih Brasa, Brasa Lebih pinter gitu loh!" 


By. Kisah Sahabat. http://www.kisahsahabat.com/